Setelah lulus SMA seseorang akan diberikan dua pilihan terbesar dalam hidupnya antara melanjutkan studi sarjana atau bekerja. Dua pilihan tersebut akan memberikan dampak besar bagi kehidupan seorang individu. Dengan demikian individu tersebut akan melakukan sebuah pengukuran sebagai pertimbangan untuk memutuskan suatu hal. Dalam hal ini, penulis akan membagi sudut pandang terkait kuliah dan seberapa pentingnya kuliah. Dimulai dengan pertanyaan yang bisa kalian jawab sendiri
Untuk apa kalian berkuliah?
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman memberikan akses ilmu pengetahuan yang luas ditambah dengan perkembangan Artificial Intellegance (AI) yang semakin adaptif dan canggih. Akses yang mudah tersebut membuat mudah untuk disimpulkan bahwa kuliah itu tidak diperlukan untuk jurusan tertentu karena dengan kemudahan tersebut seorang individu dapat belajar secara autodidak. Namun pemahaman tersebut tidak salah tetapi juga tidak benar secara kesimpulan karena parameter yang dibandingkan tidak cukup untuk menjelaskan mana yang lebih baik.
Bagi penulis, kuliah itu sangat penting karena proses ekplorasi belajar sangat jauh dibandingkan dengan autodidak. Sederhananya, bagaimana caranya anda tahu bahwa yang anda pelajari sudah benar? siapa validatornya? apakah cukup dengan artikel ilmiah? jika memang cukup, bagaimana cara anda memahami artikel ilmiah tersebut, apakah sudah benar? dan banyak pertanyaan lain yang tidak cukup dalam paragraf ini. Percayalah, orang yang mengatakan bahwa kuliah itu tidak penting adalah orang yang telah atau pernah berkuliah tetapi tidak mendapat inti sari dari proses berkuliah itu sendiri atau kasarnya adalah orang yang dari awal memiliki previlage finansial yang baik. Kuliah dari sudut pandang penulis adalah proses pembentukan fondasi berpikir dan keilmuan (tergantung jurusan) atau dasar dari individu tersebut serta ruang akses untuk memperoleh mentor dan relasi sehingga jika kalian memiliki kesempatan untuk dapat melakukan kuliah, segerakan.
Walaupun penulis mengatakan kuliah itu penting, hidup kalian jauh lebih penting. Tiap orang memiliki garis start berbeda. Beberapa individu dihadapi dengan masalah finansial sehingga mengharuskan untuk bekerja, bukan karena tidak ada beasiswa melainkan bahkan dengan beasiswa tersebut masalah finasial yang individu tersebut tidak dapat terselesaikan. Kondisi perut kalian lebih penting, apa gunaya kalian berkuliah tetapi mati pada akhirnya. Percayalah, penting tidaknya suatu keputusan itu bukan dari keuntungan melainkan kebutuhan. Misalnya kalian memutuskan untuk bekerja maka kebutuhan finansial anda tepenuhi secara pasti dan soft skill anda akan terbentuk di lingkungan kerja. Lalu apa yang menjadi masalah untuk nanti tidak lanjut kuliah? kecuali kalian berhenti belajar ketika sudah bekerja itu perihal lain karena biasanya itu berkaitan dengan psikologi (siapa yang tidak suka uang, penulis juga suka uang).
Merubah Mindset Bahwa Kuliah untuk Mendpatkan Bekerja!
Orang sering kehilangan arah karena tergerus idealisme yang mereka bangun. Beberapa orang yang lulus sebagai sarjana merasa ada ekslufitas yang mereka miliki. Mereka enggan bekerja yang tidak memiliki value tinggi di masyarakat karena ada gengsi yang terbangun selama berkuliah. Padahal sudut pandang tersebut kurang tepat. Bagi penulis, berkuliah berarti membangun value untuk diri sendiri yang tujuan utamanya bukan pekerjaan, kecuali profesi terntu yang memang sudah digariskan seperti dokter. Sebagai contoh, beberapa sarjana kedokteran memilih untuk tidak melanjutkan spesialis karena ingin berbisnis. Apakah pilihan tersebut menjadikannya sia-sia? tentu tidak, ilmu yang individu tersebut peroleh masih relevan untuk keseharian atau mungkin bisnisnya. Oleh karena itu, sebelum kalian memutuskan untuk berkuliah yang harus kalian patri di dalam mindset adalah "berkuliah bukan untuk bekerja, melainkan meningkatkan value diri saya, semakin malas saya semakin tidak ada value saya."
Hal yang Tidak Menyenangkan Selama Berkuliah
Penulis enggan menyampaikan hal yang menyenangkan di perkuliahan karena sifatnya subjektif tiap orang. Walaupun demikian secara umum hal yang tidak enak itu selalu sama tiap mahasiswa. Penulis memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan ketika bekerja satu tim dengan mahasiswa. Ketidak senangan tersebut membuat penulis berpikir, tidak semua orang benar-benar ingin berkuliah, beberapa orang berkuliah hanya bingung melakukan apa setelah SMA dan kebetulan mereka punya finansial yang bagus. Beberapa juga ada yang dari awal memilliki keinginan menambah relasi. Pertama kali mendengar itu, apa maksutnya? bagaimana kita dianggap sebagai berelasi dengan individu yang lain ketika value kita kurang bagus? pasti hanya sebatas kenalan.
Percayalah orang yang mengatakan bahwa tugas itu jangan dianggap serius, kurang penting dan lebih penting membangun relasi, berorganisasi, dan apapun itu segera tutup mulut orang tersebut dan katakan dengan elegan bahwa kalian memiliki jalan kalian sendiri! Gunakan kesempatan mengerjakan tugas sebaik mungkin karena ketika kalian berkuliah sebenarnya kalian berada di dalam sumur. Kebanyang tidak ketika kalian lulus dengan cara yang biasa saja "asal mengerjakan tugas" lalu kalian bertemu dari lulusan Universitas lain misalnya Oxford atau Havard kalian akan merasa bukan siapa siapa.
Oleh karena itu, perasaan bukan siapa-siapa itu bisa hilang melalui keseriusan dan kerja keras yang kalian tuangkan. Sebagai tambahan, mendapat nilai A itu mudah pada beberapa bidang tertentu sehingga jangan jadikan hal tersebut sebagai standar, mulai lah bertanya pada diri kalian sendiri apakah saya layak mendapatkan nilai A tersebut.

Social Plugin