Dalam memaknai sebuah pilihan setiap individu memiliki caranya, dan cara tersebut bisa banyak orang setuju dan mungkin tidak. Sudut pandang psikologi menurut Sigmund Freud, berpendapat bahwa banyak keputusan manusia tidak sepenuhnya rasional, melainkan dipengaruhi oleh konflik antara id (dorongan naluriah), ego (penengah realistis), dan superego (nilai moral). Pernyataan ini sesuai dengan sudut pandang ekonomi dalam buku "Principle of Economics, Eds. 8" yang ditulis N. Gregory Mankiw yang menyebutkan salah satu dari 4 prinsip seseorang membuat keputusan adalah kompromi. Walaupun demikian, banyak sudut pandang lain, misalnya Carl Rogers seorang psikologi klinis dan Abraham Maslow psikolog yang dikenal karena teori hierarki kebutuhan (Maslow’s Hierarchy of Needs) yang melihat manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya memiliki kebebasan dan dorongan untuk berkembang (self-actualization).
Hal yang saya jelaskan diawal merupakan penjelas singkat terkait bagaimana teman teman nantinya menyikapi sebuah pilihan yang telah ditentukan dari sudut pandang S1 Biologi.
Idealisme dan Realistisme
Meyakinkan diri bahwa kalian adalah semangkok kosong yang tidak ada isinya. Kenapa saya menyebutkan ini diawal? karena saya telat menyadari hal ini. Ketika di lingkungan yang baru atau transisi dari tingkatan tertentu, saya meyakini bahwa idealisme yang saya miliki perlu dipertahankan karena itu value yang memastikan eksistensi saya. Hal yang harus kita sepakati disini adalah bahwa idealisme itu rentang terpengaruhi sehingga ada kemungkinan hal tersebut hancur dan tersusun ulang sebagai idealisme yang baru.
Permasalahan yang sering saya amati dari observasi individu, kelompok, dan wawancara singkat. Banyak orang yang meyakini bahwa idealis dan realistis adalah dua hal yang terpisah sehingga seakan akan seseorang harus memilih antara A dan B. Menurut pendapat saya ini kesalahan karena keduanya adalah satu kesatuan. Sebagai contoh, seorang anak dari keluarga miskin bercita-cita menjadi dokter bedah saraf. Realitanya biaya pendidikan kedokteran mahal, lalu apakah membuat individu ini harus menggugurkan mimpinya? realita lain terdapat cara untuk mencapai itu dengan kondisi yang tidak realistis secara finansial melalui jalur mahasiswa. Tapi akan timbul dilema ulang? saya tidak pintar? persaingan pasti sangat kompetitif dan lainnya. Maka saya akan bertanya ulang ke kalian, apa dasar seorang dikatakan bodoh? orang dikatakan bodoh karena kurangnya curiosity bukan keinginan belajar. Saya yakin bahwa setiap orang akan berusaha dalam belajar tapi apa gunaya jika kalian tidak tertarik dengan hal tersebut. Di sisi lain, perihal kompetisi, atas dasar apa kalian meyakini bahwa hanya diri kalian yang berusaha? sejak kapan suatu ruang tidak memiliki kapasitas (ya kecuali ruang angkasa)? Seseorang wajib memiliki idealismenya dan seseorang wajib mencari jalan realistis untuk menuju idealisme tersebut.
Persepsi Kompromi yang Salah
Biasanya orang ketika diberikan atau sedang menghadapi sebuah pilihan maka dia akan berada disituasi yang dia harus berkompromi. Di sisi lain, kondisi tersebut membuat seorang yakin bahwa berkompromi berarti mengorbankan suatu hal untuk kesesuaian yang lebih tepat. Padahal jika kita balik ke garis tujuan kita maka kompromi yang dimaksut adalah berapa cost yang diperlukan untuk tujuan tersebut, tidak tentang rutenya bagaimana sehingga dapat diartikan bahwa kompromi bukan sebuah pengorbanan melainkan suatu keharusan yang memang dilakukan.


Social Plugin