Kenapa kita harus mendonorkan darah secara gratis, padahal para pengusaha makin kaya raya karena rumah sakit mematok harga selangit jika terdapat pasien yang membutuhkan? Pertanyaan ini mungkin akan muncul disetiap orang atau malah menjadi suatu pernyataan yang berubah menjadi prinsip, akan tetapi terdapat satu hal yang luput dari logika kalimat tersebut. Pertama, apakah hanya dengan mematok harga tertentu terhadap darah tersebut membuat mereka langsung kaya? bagaimana dengan biaya operasional yang mencangkup semua hal yang membuat tempat itu tetap berjalan. Tetapi saya tidak ingin membahas dari segi kompleksitas bisnis, saya membatasi pembahasan topik ini tentang bagaimana kita menyikapi dan keputusan yang kita buat.
Bagaimana Seseorang Membuat Keputusan?
Saya ingin menyinggung satu prinsip dalam ekonomi yaitu People Face Trade-offs (Kompromi) karena dalam ekonomi selalu menegaskan mana diantara pilihan yang memberikan value ke individu (anda sendiri). Prinsip yang sama juga dapat kita aplikasikan terhadap donor darah. Seseorang pendonor harus mengorbankan waktu, tenaga, dan mungkin perasaan tidak nyaman selama beberapa waktu. Namun, sebagai imbalannya ia memperoleh manfaat yang tidak selalu berbentuk materi, seperti kepuasan karena telah membantu menyelamatkan nyawa orang lain, rasa tanggung jawab sosial, hingga manfaat kesehatan.
Oke, anggap saja anda orang yang individualis, mementingkan diri sendiri dari pada orang lain saya tidak akan mengkritk itu karena setiap individu pada dasarnya sedang berjuang, mungkin anda sedang dikondisi flight on fight secara terus menerus karena bertahan hidup di dunia ini. Dalam hal ini saya akan memberikan contoh keuntungan kesehatan untuk diri anda sendiri misalnya menurunkan kadar zat besi berlebihan sebanyak 200-250 mg zat besi dari tubuh dan mendapatkan skrining kesehatan. Ya meskipun keuntungan yang diberikan tidak terlalu signifikan untuk kesehatan, but you still get something! oleh karena itu jika anda merasah itu kurang menguntungkan anda bisa berhenti membaca hal ini karena dipenjelasan selanjutnya diperuntukan kepada orang yang memiliki value yang berhubungan dengan empati atau moral, bukan berarti anda tidak bermoral lebih ke arah beberapa mungkin lebih takut jarum suntik dibandingkan nilai nilai ini.
Berpikir Secara Analitis
Di sini saya akan menyinggung prinsip dari seorang Professor luar biasa dari Havard, Richard Zeckhauser "Don't Take Refuge in Complexity.", "Thinking straight, Go To Simple Case", dan "Thinking Straight, Go to an Extreme Case." Kenapa kita harus berpikir rumit tentang nilai sekantung darah kita ketika nanti sudah di donorkan ke rumah sakit, seberapa untung pengusaha pengusaha itu? sehingga menyimpulkan dan bertindak melakukan pemboikotan. Coba kita melihat pada kasus yang ekstrim, pengusaha itu akan tetap kaya tanpa darah tersebut karena basis usahanya bukan hal itu sehingga pengusaha tersebut tidak perlu mengumpulkan darah karena bisa memangkas anggaran operasional, di sisi lain ketika terdapat pasien atau mungkin seseorang yang membutuhkan darah tersebut tidak ada di rumah sakit sehingga orang tersebut atau anda perlu mencari pendonor yang tentu prosesnya tidak sesederhana itu, telat penanganan pasien tersebut tidak tertolong. Padahal presentase keselamatan invidiu tersebut tinggi seharusnya ketika terdapat stok darah.
Dalam hal ini saya sangat menekankan berpikir lurus dan sederhana saja. Apa tujuan donor itu? siapa targetnya? selama tidak terdapat diskriminasi terhadap pasien yang dimana hanya orang kulit putih saja atau yang kaya saja its not a big deal, jarang sekali ada cerita biaya kesehatan itu murah.
Sebagai informasi tambahan, berdasarkan pemaparan The World Commonwealth Fund, Indonesia tergolong murah jika dibandingkan dengan banyak negara lain terutama karena adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)/ BPJS Kesehatan yang menanggung sebagian besar layanan kesehatan dan jika tanpa BPJS biaya kesehatan masih murah dibandingkan negara seperti Amerika Serikat, Singapura, atau Jepang meskipun dibilang murah biayanya tetap dapat mencapai ratusan juta jika pada kondsi tertentu. Walapun demikian saya juga akan tertekan jika biaya kesehatan mahal sehingga disini saya menegaskan bahwa yang saya kritik adalah argumen tentang boikot.

Social Plugin